Jumat, 01 Maret 2013

ASUHAN KEPERAWATAN LEUKIMIA

1. KONSEP DASAR MEDIS
1.1 Pengertian
(1) Leukemia adalah proliferasi patologin dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir dengan fatal. Leukemia dikatakan penyakit darah yang disebabkan terjadinya kerusakan pada pabrik pembuatan sel darah yaitu pada sum-sum tulang (Ngastiyah, 1997 : 381)
(2) Leukemia : proliferlasi sel darah putih yang masih teratur dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi, 2001 : 175)


1.2 Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
(1) Faktor genetik
(2) Radiasi
(3) Obat-obat imunosupresif, obat-obata karsinogenik
(4) Faktor heredifer
(5) Kelainan kromososm


1.3 Patofisiologi
Adanya proliferasi sel kanker sehingga sel kanker bersaing dengan sel normal untuk mendapatkan nutrisi dengan cara infiltrasi sel normal digantikan dengan sel kanker. Dengan adanya sel kanker akan terjadi depresi sumsum tulang yang akan mempengaruhi eritrosit, leukosit, faktor pembekuan dan jaringan meningkat karena adanya depresi dari sumsum tulang maka produksi eritrosit menurun dan terjadi anemia, produksi leukosit juga menurun sehingga sistem retikoloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi yang manifestasinya berupa demam. Faktor pembekuan juga mengalami penurunan sehingga terjadi perdarahan yang akan menimbulkan trombositopenia. Dengan adanya pergantian sel normal oleh sel kanker terjadi infiltrasi ekstra medular sehingga terjadi pembesaran limpa, lifer, nodus limfe dan tulang sehingga bisa menimbulkan nyeri tulang dan persendian. Hal tersebut juga akan mempengaruhi SSP (sistem saraf pusat) yakni adanya infiltrasi SSP sehingga timbullah meningitis leukemia, hal tersebut juga akan mempengaruhi metabolisme sehingga sel akan kekurangan makanan
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :

1.4 Klasifikasi

Berdasarkan morfologi sel terdapat 5 golongan besar leukemia sesuai dengan lima macam sistem dalam sumsum tulang yaitu :
1. Leukemia sistem eritropoitik : mielosis, eritremika.
2. Leukemia sistem granulopoitik : leukemia granulosit.
3. Leukemia sistem trombopoitik : leukemia megakarlosit.
4. Leukemia sistem limfopoitik : leukemia megakarlosit.
5. Leukemia RES : retikulo endoteliosis / retikolosis.


1.4.1 LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT
1. Penyebab
LLA lebih sering dijumpai pada anak usia 3-5 tahun, dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan.
Sampai sekarang penyebabnya belum diketahui, diduga karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang berperan :
1.1 Faktor eksogen : sinar X, sinar radio aktif, hormon, bahan kimia (benzol, arsen, preparat sulfat), infeksi (virus, bakteri)
1.2 Faktor endogen : ras (orang Yahudi mudah menderita LLA), faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (sindrom down), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kembar satu telur)
2. Gejala Klinis
2.1 Gejala khas : pucat, panas, perdarahan, splenomegali, hepatomegali, limfadenopati.
2.2 Gejala tidak khas : sakit sendi / sakit tulang.
2.3 Gejala lain : lesi purpura pada kulit.
3. Pemeriksaan Laboratorium
3.1 Darah tepi : Adanya pensitopenia, limfositosis yang kadang-kadang menyebabkan gambaran darah tepi monoton terdapat sel blast, yang merupakan gejala patogonomik untuk leukemia
3.2 Sum-sum tulang : Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak (apabila sekunder). (Ilmu Kesehatan Anak :145)
4. Pemeriksaan lain
4.1 Biopsi limpa
4.2 Kimia darah
4.3 Cairan cerebrospinal
4.4 Sitogenik
5. Pengobatan
5.1 Transfusi darah bila Hb kurang dari 6 g/dl
5.2 Kortikosteroid
5.3 Sistostatika
5.4 Imunoterapi
5.5 Infeksi sekunder dihindarkan (isolasi)
1.4.2 LEUKEMIA LIMFOSITIK KRONIK (LLK)
1. Insiden
Lebih sering pada laki-laki dan ditemukan pada umur kurang dari 40 tahun. Pada usia 60 tahun ke atas insiden tinggi.
2. Gejala klinis
Limfodenopati, splenomegali, hepatomegali, anemia hemolitik, trombositopenia.
3. Pemeriksaan Lab
3.1 Darah tepi : limfositosis 50.000/mm.
3.2 Sum-sum tulang : adanya infiltrasi merata.
4. Pengobatan
Clorambucil dan kortikosteroid.


1.4.3 LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT (LMA)
1. Insiden
Lebih sering ditemukan pada usia dewasa (85 persen) daripada anak-anak (15 per sen) dan lebih sering pada laki-laki.
2. Gejala klinis
Rasa lelah, pucat, nafsu makan menuurn, nyeri tulang, pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran kelenjar mediastrium, anemia ptekie, perdarahan, infeksi.


1.4.4 LEUKEMIA GRANULOSITIK KRONIK (LGK)
1. Pengertian
Suatu penyakit mielopoliferatif yang ditandai dengan produksi berlebihan dari sel granulosit yang relatif matang.
2. Gejala Klinis
Rasa lelah, penurunan berat badan, rasa penuh di perut, splenomegali.
3. Pemeriksaan Lab
3.1 Leukosit lebih dari 50.000/mm
3.2 Trombositopenia
3.3 Kadar fosfatose alkali leukosit rendah
3.4 Kenaikan kadar vitamin B16 dalam darah
3.5 Sumsum tulang : hiper seluler dengan peningkatan jumlah megalicitiosil dan aktivitas granulopolsis.
1.5 Manifestasi Klinik
Pilek, pucat, lesu, mudah terstimulasi, demam, anoreksia, BB menurun, ptechiae, nyeri tulang dan persendian, nyeri abdomen, limfadenopati, hepatoslenomegali.


1.6 Pemeriksaan Diagnostik
(1) Pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan pada kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya ponsitopenia, limfositosis yang menyebabkan darah tepi monoton dan terdapat sel blast.
(2) Kimia darah
Asam urat meningkat hipogamaglobinemia
(3) Sumsum tulang
(4) Biopsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfe yang terdesa seperti : limfosit normal, RES.
(5) Cairan serebrospinalis
Terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein
(6) Sitogenik
Menunjukkan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom Philadelphia atau Phi)


1.7 Penatalaksanaan
(1) Medik
(1) Tranfusi darah
Biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6 gram %
(2) Kartikosteroid
(3) Sitostatika
Diberikan metotreksat atau MTX 2 minggu / kg BB secara intrafekal 3x seminggu 6-Merkaptopurin atau 6-MP setiap hari dengan dosis 65 mg/m2 luas permukaan badan.
(4) Infeksi sekunder dihindarkan
(5) Imunoterapi
(2) Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan umunya sama dengan pasien lain yang menderita penyakit darah. Tetapi karena prognosis pasien pada umumnya kurang menggembirakan (sama sepeti kanker lainnya) maka pendekatan psikososial harus diutamakan. Yang perlu diusahakan ialah ruangan yang aseptik dan cara bekerja yang aseptik pula. Sikap perawat yang ramah dan lembut diharapkan tidak hanya untuk pasien saja tetapi juga pada keluarga yang dalam hal ini sangat peka perasaannya jika mengetahui anaknya.


2. KONSEP DASAR ASKEP
2.1 Pengertian
1) Biodata
Terutama menyerang usia 3-4 tahun.
2) Riwayat penyakit
(1) Keluhan utama
Pucat, panas
(2) RPS
Pucat mendadak disertai panas dan perdarahan.
(3) RPD
- Antenatal : ibu menderita leukemia
- Natal : -
- Post natal : -
3) Activity Daily Life
(1) Nutrisi
Nafsu makan hilang, penurunan BB
(2) Eliminiasi
Terjadi konstipasi dan diare
(3) Istirahat
Sering tidur
(4) Aktivitas
Lemas, lelah, nyeri sendi
(5) Personal hygiene
Terganggu


2.2 Pemeriksaan
1) Umum
(1) Kesadaran : composmentis sampai koma
(2) Tekanan darah : hipotensi
(3) Nadi : takikardi dan filiformis
(4) Suhu : demam sampai dengan hiperpireksia
(5) Pernafasan : takipnea sesak nafas
2) Fisik
(1) Kepala
- Wajah : pucat
- Mata : conjungtiva pucat, perdarahan retina, pupil odema
- Hidung : epitaksis
- Mulut : gusi berdarah, bibir pucat, hipertropi gusi, stomatitis
- Leher : pembesaran kelenjar gejah bening, faringitis
- Dada : nyeri tekan pada tulang dada, terdapat efusi pleura




- Abdomen : hepatomegali, spenomefali, limfodenopati
- Skeletal : nyeri tulang dan sendi
- Integumen : purpura, ekimosis, ptekie, mudah memar
3) Penunjang
(1) Pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan pada kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya ponsitopenia, limfositosis yang menyebabkan darah tepi monoton dan terdapat sel blast.
(2) Kimia darah
Kolesterol mungkin rendah, Asam urat meningkat, hipogamaglobinemia
(3) Pemeriksaan Sumsum tulang
Pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesa (aplasia sekunder)
(4) Biopsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfe yang terdesa.
(5) Cairan serebrospinalis
Terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein
(6) Sitogenik
Menunjukkan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom Philadelphia atau Phi)
2.3 Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1) Resiko infeksi sehubungan dengan ketidakefektifan sistem imun
2) Intoleran aktivitas sehubungan dengan gangguan transpor oksigen skunder terhadap berkurangnya jumlah sel darah merah.
3) Resiko injury sehubungan dengan ketidakadekuatan faktor pembeku (platelet).
4) Kecemasan sehubungan dengan ketidakadekuatan dengan diagnosa baru dan rencana perawatan.


2.4 Rencana Keperawatan
1) Diagnosa 1
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi
(1) Kriteria hasil
· Menunjukkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
· Suhu 365o – 374oC
· Kultur darah (-)
· Tidak ada tanda infeksi dalam pemeriksaan fisik.
(2) Intervensi
· Monitor TTV tiap 4 jam, jangan memakai termometer rectal.
R/ deteksi dini terhadap infeksi dan menjaga keadaan mukos rectal.
· Cegah konstipasi da prosedur invasi jaringan, melakukan injeksi IM, SC, IV.
R/ mencegah perdarahan.
· Ambil darah melalui ibu jari tidak dengan jarum suntik.
R/ mencegah perdarahan.
· Inspeksi kulit setiap hari pada daerah yang rusak.
R/ kulit yang sempurna sebagai pertahanan pertama melawan serangan organisme.
· Inspeksi rongga mulut apakah ada candida dan kerusakan pada lapisan mukosa oral.
R/ kesehatan mukosa oral adalah sebagai pertahanan melawan serangan organisme.
· Instruksi keluarga tentang tanda infeksi dan langkah yang diambil jika ada dugaan infeksi.
R/ keluarga kooperatif dan mampu melakukan tindakan terhadap pencegahan infeksi.
· Beri semangat untuk hggiene oral.
R/ kebersihan oral yang buruk merupakan medium utama untuk pertumbuhan organisme.


2) Diagnosa 2
Tujuan : Aktifitas anak menjadi meningkat
(1) Kriteria hasil
· HR, keseimbangan cairan sesuai unsur
· Keluarga atau anak mengerti tanda-tanda anemia dan penyebab
· Membentuk ADL yang tepat tanpa bantuan
(2) Intervensi
· Kaji HAR dan urine tiap 4 jam
R/ memonitor transpor oksigen dalam toleransi kegiatan.
· Diskusikan dengan orang tua / anak tanda anemia dan tindakan pilihan.
R/ orang tua kooperatif dan mampu melakukan tindakan pilihan.
· Berikan transfusi RBC
R/ menormalkan jumlah sel darah merah dan kapasitas oksigen.
· Susunlah periode istirahat
R/ memberikan energi untuk penyembuhan dan regenerasi sel.
3) Diagnosa 3
Tujuan : Mencegah injury yang berkelanjutan
(1) Kriteria hasil
· Menunjukkan tidak ada tanda-tanda perdarahan dalam prosedur RS.
· Mempunyai pergerakan perubahan sehari.
· Bebas injury dan lingkungan yang bebas.
· Orang tua / anak secara verbal mengenal tindakan yang diperlukan ketika jumlah platelet turun.
(2) Intervensi
· Monitor jumlah platelet.
R/ mencegah terjadinya perdarahan.
· Inspeksi faeces, gusi, emesis, sputum, sekret nasal.
R/ mengetahui adanya persarahan sebagai tanda-tanda tromvositopenia.
· Minimalkan / hindari prosedur invasi.
R/ mengurangi kerusakan integritas mulut yang memungkinkan terjadinya infeksi.
· Cegah konstipasi
R/ mencegah kerusakan mukosa anus sehingga mengurangi resiko infeksi.
· Sediakan lingkungan yang aman
R/ lingkungan yang aman akan menurunkan resiko spontan perdarahan bila anak mengalami trombositopenia.
· Instruksikan pada klien untuk memodifikasi kegiatan yang tepat untuk meminimalkan resiko trauma.
R/ diagnosa keperawatan tidak bosan dan terhindar dari injury.


4) Diagnosa Keperawatan 5
Tujuan : Mengurangi terjadinya kecemasan
(1) Kriteria hasil
· Orang tua mengungkapkan secara verbal tentang diagnosa
· Orang tua ikut serta dalam rencana pelaksanaan.
· Orang tua memikirkan spesifik untuk pelaksanaan perawatan.
(2) Intervensi
· Buatkan orang tua diagnosa dan tindakan dengan teratur.
R/ orang tua mengerti dan kooperatif dalam tindakan.
· Perkenalkan keluarga kepada keluarga lain di mana anak mereka mempunyai diagnosa sama dan terapi yang sama.
R/ antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain bisa saling tukar menukar informasi tentang penyakit yang diderita anaknya.
· Perkuat secara verbal rencana setiap hari.
R/ keluarga kooperatif dalam tindakan keperawatan.
· Berikan tulisan dan verbal tentang instruksi tindakan yang dilakukan di rumah.
R/ melanjutkan intervensi.




2.5 Implementasi
Pada tahap pelaksanaan merupakan kelanjutan dari rencana keperawatan yang telah ditetapkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal, pelaksanaan adalah wujud dari tujuan keperawatan pada tahap perencanaan.


2.6 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap dimana tahap proses keperawatan menyangkut pengumpulan data obyektif dan subjektif yang dapat menunjukkan masalah apa yang terselesaikan, apa yang perlu dikaji dan direncanakan, dilaksanakan dan dinilai apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, sebagian tercapai atau timbul masalah baru.


DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi I, Jilid III. Jakarta : Media Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
UPF IKA RSUD Dr. Soetomo, 1998.

ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS


Defenisi
            Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis.

Patofisiologi
            Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid.
            Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melaui aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.

Etiologi
            Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa.

Meningitis Bakteri
            Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, Nersseria,Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.

Meningitis Virus
            Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.

Pencegahan
            Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik faktor presdis posisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor atau janis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.

Pengkajian Pasien dengan meningitis
Riwayat penyakit dan pengobatan
            Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Setelah itu yang perlu diketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor presdiposisi seperti infeksi saluran napas, atau fraktur tulang tengkorak, dll.

Manifestasi Klinik
·  Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
·  Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.
·  Sakit kepala
·  Sakit-sakit pada otot-otot
·  Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
·  Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI
·  Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.
·  Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak terdapat pada virus meningitis.
·  Nausea
·  Vomiting
·  Demam
·  Takikardia
·  Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia
·  Pasien merasa takut dan cemas.

Pemeriksaan Laboratorium
            Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra kranial. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa.
Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal.
            Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.

Pemeriksaan Radiografi
            CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.

Pengobatan
Pengobatab biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai.
 Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis :
Antibiotik
Organisme


Penicilin G




Gentamicyn



Chlorampenikol
Pneumoccocci
Meningoccocci
Streptoccocci


Klebsiella
Pseudomonas
Proleus

Haemofilus Influenza
Terapi TBC
·  Streptomicyn
·  INH
·  PAS
Micobacterium Tuber culosis


Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :

Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
Tujuan
·  Pasien kembali pada,keadaan status neurologis sebelum sakit
·  Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris

Kriteria hasil
·  Tanda-tanda vital dalam batas normal
·  Rasa sakit kepala berkurang
·  Kesadaran meningkat
·  Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.

Rencana Tindakan
INTERVENSI
RASIONALISASI
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal
Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.
Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt
Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Resoirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik
Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
Monitor intake dan output
hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral
Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur.
Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava
Kolaborasi
Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.

Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral
Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen
Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.

Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunka metabolik sel / konsumsi dan kejang.

Sakit kepala sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
Tujuan
Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol

Kriteria evaluasi
·  Pasien dapat tidur dengan tenang
·  Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.

Rencana Tindakan
INTERVENSI
RASIONALISASI
Independent
Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang

Menurukan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat
Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata
Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak
Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati
Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / disconfort
Kolaborasi
Berikan obat analgesik

Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.

Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
Tujuan:
Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran

Rencana Tindakan
INTERVENSI
RASIONALISASI
Independent
monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya

Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien.
Melindungi pasien bila kejang terjadi
Pertahankan bedrest total selama fae akut
Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi
Kolaborasi
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll.

Untuk mencegah atau mengurangi kejang.
Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

·  Donnad, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991
·  Kapita Selekta Kedokteran FKUI, Media Aesculapius, 1982
·  Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984

ASUHAN KEPERAWATAN SYNDROM DISPEPSIA

1. Pengertian
Dispepsia adalah rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian ulu hati (NN, 2004). Pendapat lain menyebutkan bahwa dispepsia adalah kelainan di dalam tubuh akibat reaksi tubuh terhadap keadaan sekeliling yang menimbulkan gangguan ketidakseimbangan metabolisme yakni makanan di dalam saluran pencernaan, terutama menyerang usia produktif 30 - 50 tahun (NN, 2002). Sedangkan menurut Mansjoer, Triyanti, Savitri, Wardhani dan Setiowulan, (1999:488) dispepsia merupakan kumpulan keluhan gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Ahli lain berpendapat bahwa dispepsia adalah keluhan yang diasosiasikan sebagai akibat dari kelainan saluran makanan bagian atas yang berupa nyeri perut bagian atas, perih, mual, yang kadang¬kadang disertai rasa panas di dada dan perut, lekas kenyang, anoreksia, kembung, regurgitasi, banyak mengeluarkan gas asam dari mulut (Hadi, 1995:153).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dispepsia merupakan kumpulan keluhan yang meliputi rasa nyeri pada ulu hati, perih, mual, rasa panas di dada , anoreksia, lekas kenyang, kembung, dan regurgitasi akibat gangguan sistem pencernaan.
2. Penyebab
Menurut Hadi (1995), penyebab dispepsia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan dispepsia fungsional.
a. Dispepsia organik (dispepsia yang penyebabnya sudah pasti)
Jarang ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. Penyebabnya antara lain sebagai berikut.
1). Dispepsia tukak (ulcus like dyspepsia)
Gejala yang ditemukan biasanya nyeri ulu hati pada waktu tidak makan (night pain)

2). Dispepsia tidak tukak
Gejalanya sama dengan dispepsia tukak, bisa pada klien gastritis, duodenitis, tetapi pada pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda tukak.
3). Refluks gastroesofagus
Gejala berupa rasa panas di dada dan regurgitasi terutama setelah makan.
4). Penyakit saluran empedu
Keluhan berupa nyeri mulai dari perut kanan atas atau ulu hati yang menjalar ke bahu kanan dan punggung.
5). Karsinoma
a). Kanker esofagus
Keluhan berupa disfagia, tidak bisa makan, perasaan penuh di perut, penurunan berat badan, anoreksia, adenopati servikal, dan cegukan setelah makan.
b). Kanker lambung
Yang paling umum adalah adenokarsinoma yaitu tumor epitel. Keluhan berupa rasa tidak nyaman pada epigastrik, tidak bisa makan„ dan perasaan kembung setelah makan.
c). Kanker pankreas
Gejala yang paling umum antara lain penurunan berat badan, ikterik, dan nyeri daerah punggung atau epigastrik.
d). Kanker hepar
Gejala berupa nyeri hebat pada abdomen dan mungkin menyebar ke skapula kanan, penurunan berat badan, epigastrik terasa penuh, dan anoreksia.
6). Obat-obatan
Golongan Non Steroid Inflammatory Drugs (NSID) dengan keluhan berupa rasa. sakit atau tidak enak di daerah ulu hati, disertai mual dan muntah.
7). Pankreatitis
Keluhan berupa mendadak yang menjalar ke punggung, perut terasa makin tegang dan kencang.
8). Sindrom malabsorpsi
Keluhan berupa nyeri perut, nausea, anoreksia, sering flatus dan perut kembung.

9). Gangguan metabolisme
Sebagai contoh diabetes dengan neuropati sering timbul komplikasi pengosongan lambung yang lambat sehingga menimbulkan nausea, vomitus, perasaan lekas kenyang. Hipertiroid menimbulkan rasa nyeri di perut, vomitus, nausea, dan anoreksia.
b. Dispepsia fungsional (dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari saluran cerna)
Penyebabnya antara lain :
1). Faktor asam lambung klien
Klien biasanya sensitif terhadap kenaikan produksi asam lambung dan hal tersebut menimbulkan nyeri.
2). Kelainan psikis, stres, dan faktor lingkungan
Stres dan faktor lingkungan diduga berperan pada kelainan fungsional saluran cerna, menimbulkan gangguan sirkulasi, motilitas, clan vaskularisasi.
3). Gangguan motilitas
Mekanisme timbulnya gejala dispepsia mungkin dipengaruhi oleh susunan saraf pusat, gangguan motilitas di antaranya : pengosongan lambung lambat, abnormalitas kontraktif, refluks gastroduodenal.
Penyebab lain dispepsia antara lain sebagai berikut :
a. Menurut NN (2004)
1). Adanya kuman H. pylori
2). Gangguan motilitas atau gerak mukosa lambung
3). Makanan yang berlemak
4). Kopi, alkohol, rokok
b. Perubahan pola makan dan pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu lama (NN, 2002).







2. Patofisiologi
Menurut Soeparman dan Waspadji (1990 : 125) partofisiologi dispepsia adalah sebagai berikut :
Lambung menghasilkan asam pepsin lambung

Agresif terhadap mukosa lambung clan duodenum

Hipersekresi Faktor agresi meningkat Hiperasiditas

Menurunkan faktor resistensi

Tukak lambung

Gejala dispepsia

Lambung menghasilkan asam pepsin lambung yang sifatnya mencerna semua jaringan hidup termasuk mukosa lambung dan duodenum. Tetapi lambung dan duodenum dilindungi oleh barier epitel dari autodigesti. Karena pengaruh obat-obatan, alkohol atau garam empedu akan merusak sistem barier mukosa epitel sehingga menurunkan faktor resistensi. Stres, faktor psikis, lingkungan, clan obat-obatan seperti kafein juga akan berpengaruh pada sekresi asam
lambung. Peningkatan tersebut akan mencerna sistem barier mukosa epitel (autodigesti) sehingga menyebabkan tukak lambung lalu timbul gejala dispepsia. 4. Manifestasi Minis
a. Adanya gas di perut, rasa penuh setelah makan, perut menonjol, cepat kenyang, mual, tidak nafsu makan, dan perut terasa panas (NN, 2004).
b. Rasa penuh, cepat kenyang, kembung setelah makan, mual, muntah, sering bersendawa, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati dan dada atau regurgitasi asam lambung ke mulut (NN, 2002).
c. Menurut Mansjoer, Triyanti, Savitri, Wardhani, dan Setiowulan (1999 : 488), pembagian dispepsia akut dan kronis berdasarkan jangka waktu tiga
bulan, yaitu sebagai berikut.
1). Rasa sakit dan tidak enak di ulu hati.
2). Perih, mual, sering bersendawa, dan regurgitasi.
3). Keluhan,dirasakan terutama berhubungan dengan adanya stress. 4).Berlangsung lama dan sering kambuh
5). Sering di,sertai ansietas dan depresi 4. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul pada dispepsia, diambil dari ulkus peptikum, yaitu perdarahan gastrointestinal, stenosis pilorus, dan perforasi (Corwin, 2000 :526).

5. Pemeriksaan K1inis
Pemeriksaan klinis menurut Selamihardja (1997) adalah sebagai berikut. Untuk mengetahui adanya kuman H. pylori dapat dilakukan pemeriksaan melalui beberapa cara.
a. Pemeriksaan non invasif
Pemeriksaan ini dilakukan melalui pemeriksaan serologi (pemeriksaan serum darah; positif atau tidak). Hasil positif menunjukkan adanya infeksi oleh H. Pylori.
b. Pemeriksaan invasif
Berupa pemeriksaan histologi atau patologi anatomi serta pemeriksaan CLO (Campylobacter Like Organism). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pencampuran hasil biopsi jaringan pencernaan dengan zat khusus. Selang 24 jam campuran tersebut akan menunjukkan hasil negatif dalam warna kuning dan hasil positif jika berwarna merah. Hasil positif menunjukan adanya kuman H. pylori.
c. Pemeriksaan dengan sistem PCR (Polymerase Chain Reaction) Dilakukan dengan cara penyedotan cairan perut melalui selang yang dimasukkan lewat lubang hidung. Kemudian cairan tersebut diperiksa menggunakan mikroskop. Jika penderita terinfeksi H. pylori maka pada mikroskop akan tampak kuman tersebut.
d. Entero test
Menggunakan kapsul bertali nilon yang ditelan dengan bantuan air, tepi ujung tali tetap ditahan di luar mulut. Tali nilon tersebut akan menyerap cairan dari perut. Setengah jam kemudian pasien dapat menarik tali nilon secara perlahan keluar dari mulut. Cairan yang menempel pada tali dites di laboratorium. Hasil positif terinfeksi akan ditunjukkan oleh adanya kumpulan kuman H. pylori pada sampel cairan perut.
Pemeriksaan klinis lain yang dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan pada organ-organ tubuh antara lain :
a. Endoskopi
Untuk mengetahui ada tidaknya luka di orofaring, warna mukosa menentukan ada tidaknya refluks esofagitis.
b. USG (Ultra Sonografi)
c. Bila diduga ada kelainan di pankreas, kelainan tiroid, dan tumor.

6. Terapi atau Pengobatan
Menurut Manan (2001) pengobatan yang diberikan pada penderita dispepsia adalah :
a. Suportif
Ditujukan terhadap perubahan pola kebiasaan terutama mengenai jenis makanan yang berpengaruh.
b. Medikamentosa
Pemakaian antasid dalam jangka pendek dapat mengurangi keluhan pasien. Obat-obat golongan anti asam yang bekerja sebagai penghambat pompa proton dengan dosis optimal pada saat awal terapi dan dilanjutkan setengah dosis pada tahap berikutnya. Metode pengobatan terbaru menurut Genval (1999 : 18) yang dituliskan oleh Manan (2001) dalam artikelnya yang berjudul penyakit Refluks Gastroesofageal - Esofagitis Refluks Pengobatan Masa Kini yaitu pengobatan satu obat dengan cara step down, yang dianjurkan adalah pemakaian PPI (proton pump inhibitor), dengan cara dosis awal dua kali, dilanjutkan dengan empat minggu setengah dosis awal. PPI generasi pertama yaitu golongan omeprarol, hansoprazol, dan pantopra-r.ol, sedangkan PPI generasi kedua yaitu esomeprazol.
7. Pencegahan
a. Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, tidak mengkonsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabe, alkohol., dan pantang rokok, gunakan obat: secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung (NN, 2002)
b. Hindari makan bakmi berlebihan, khususnya dalam keadaan perut kosong karena air abu yang menguningkan bakmi sangat tajam bagi lambung (Manan, 1997).


B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
l. Pengkajian
Pengkajian menurut Tucker, dkk (1998:291) meliputi wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
a. Wawancara
Meliputi :

1). Penyakit atau kondisi yang menyertai
a). Karsinoma
b). Penyakit kardiovaskuler (hipertensi)
c). Alkoholisme
d). Gangguan endokrin
e). Luka bakar berat
f). Masalah psikologis
g). Penyalahgunaan obat
h). Kondisi neurologis
i). Epistaksis
2). Penyakit atau pembedahan sebelumnya
a). Penyakit inflamasi usus
b). Karsinoma
c). Pembedahan gastrointestinal
d). Hepatitis
e). Sirosis
fl. Pankreatitis
g). Diabetes melitus
3). Riwayat k:eluarga
a). Karsinoma
b). Penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal
c). Diabetes melitus


4). Riwayat Sosial
a). Alkollolik, penggunaan tembakau
b). Kebiasaan makan, menggunakan makanan adat
c). Tipe kepribadian : ketegangan, stres
d). Pandangan terhadap tugas kehidupan
5). Riwayat Pengobatan
a). Antasida
b). Laksatif, katartif
c). Antikolinergik
d). Steroid
e). Antidiare
f). Antiemetik
g). Tranquilizer
h). Sedatif
i). Antihipertensif
j). Barbiturat
k). Antibiotik
1).Asarn asetil salisilat .
m). Antagonis reseptor hidrogen
b. Observasi
Hal-hal yang perlu diobservasi meliputi :
1). Nyeri midsternal atau substernal, dapat menyebar ke pungung, leher, dan lengan
2). Ketidaknyamanan setelah makan
3). Sakit tenggorok
4). Regurgitasi
5). Penurunan berat badan
6). Disfagia
7). Hematemesis
8). Mual


c. Pemeriksaan fisik
1). Infeksi : didapatkan kesadaran composmentis
2). Palpasi : adanya nyeri tekan epigastrik
3). Perkusi : perut kembung
4). Auskultasi : bising usus tidak normal
a). Meningkat : j ika terdapat diare karena adanya peningkatan peristaltik usus
b). Menurun : j ika. terdapat konstipasi
d. Pemeriksaan penunjang Selamihardja, 1997)
Untuk mendeteksi adanya kuman H. pylori
1). Pemeriksaan non invasif
Dilakukan melalui pemeriksaan serologi. Hasil positif menunjukkan adanya infeksi H. pylori.
2). Pemeriksaan invasif
Dilakukan melalui pemeriksaan histologi atau patologi anatomi serta pemeriksaan CLO (Compylobacter Like Organism). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pencampuran hasil biopsi jaringan pencernaan dengan zat khusus. Hasil positif ditunjukkan dalam warna merah yang menandakan adanya infeksi H. pylori.
3). Pemeriksaan dengan sistem PCR (Polymerase Chain Reaction) Dilakukan dengan cara penyedotan cairan perut melalui selang yang dimasukkan lewat lubang hidung. Cairan tersebut diperiksa di laboratorium, jika mengandung kuman H..pylori maka dapat disimpulkan bahwa dispepsia tersebut disebabkan kuman H. pylori.
4). Entero test Menggunakan kapsul bertali nilon yang ditelan dengan bantuan air, tapi ujung tali tetap ditahan di luar mulut. Tali nilon akan menyerap cairan dari perut. Setengah jam kemudian tali nilon ditarik secara perlahan ke luar dari mulut. Cairan yang menempel pada tali ditest di laboratorium, jika ditemukan adanya kuman H. pylori maka dapat disimpulkan bahwa dispepsia tersebut disebabkan kuman H. pylori.





2. Pathway Keperawatan (Hadi, 1995)


3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul (Tucker,dkk,1998) antara lain:
a. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan mukosa lambung dan sekresi gastrik.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan makanan.
c. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan melalui rute normal yang berlebih : diare.
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan, dan status nutrisi berhubungan dengan kurangnya informasi.
e. Kurang pen;getahuan tentang kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan kurangnya informasi.
f. Risiko infe;ksi pada rektum berhubungan dengan diare yang berkepanjangan.

4. Fokus Intervensi
Penyusunan fokus intervensi mengacu pada beberapa sumber yaitu Tucker, dkk (1998), Doenges (2000), danNANDA (2001).
a. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan mukosa lambung dan sekresi gastrik
1). Tujuan : setelah tindakan keperawatan nyeri berkurang atau hilang 19
2). Kriteria hasil :
a). Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
b). Klien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi
c). Raut,wajah rileks
d). Skala nyeri berkurang
3). Intervensi :
a). Kaji skala, letak, tipe, frekuensi, dan durasi nyeri
Rasional : nyeri hebat mendadak dapat menandakan perforasi lambung
b). Ajarkan teknik relaksasi
Rasional : untuk mengurangi konstraksi otot
c). Berikan aktivitas yang menghibur
Rasional : untuk mengalihkan perhatian terhadap nyeri
d). Berikan posisi yang nyaman
Rasional : nyeri akan bertambah bila posisi tidak nyaman
e). Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasional : mengurangi ketegangan emosi klien
f). Kolaborasi medis pemberian analgetik dan antasid
Rasional : antasid akan menetralkan pH lamburig sehingga nyeri berkurang
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan makanan

1). Tujuan dan kriteria hasil :
a). Klien dapat mentolelir diet tanpa rasa tidak nyaman
b). Posisi makan habis
2). Intervensi :
a). Kaji status nutrisi, diet, pola makan, makanan yang dapat menc;etuskan nyeri.
Rasional : untuk menentukan intervensi selanjutnya yang optimal dan terfokus
b). Awasi pemasukan diet
Rasional : untuk mengetahui keberhasilan tindakan
c). Berilcan makanan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional : dapat meningkatkan jumlah asupan
d). Sajikan makanan dalam kondisi hangat
Rasional : mengurangi rasa sebah
e). Anjurkan makan dalam posisi tegak
Rasional : posisi tegak akan melonggarkan kerongkongan dan lambung
fl. Berikan makanan berkalori tinggi
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan kalori klien yang kurang dari kebutuhan tubuh.
c. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan melalui rute normal yang lebih : diare
1). Tujuan :
a). Fungsi usus normal, bising usus normal
b). Tidak ada mual dan muntah
c). Freku.ensi buang air besar satu sampai dua kali sehari, konsistensi feses padat
2). Intervensi :
a). Awasi karakteristik, warna, konsistensi, frekuensi, dan jumlah feses.
Rasional : untuk mengetahui tingkat kehilangan cairan
b). Auskultasi bunyi usus
Rasional : untuk mengetahui jumlah bising usus per menit
c). Awasi masukan dan keluaran cairan
Rasional : untuk mengetahui tingkat kehilangan cairan
d). Anjurkan masukan cairan 2500 - 3000 ml per hari
Rasional : untuk mengurangi atau mengganti cairan yang hilang
e). Hindarkan makanan yang merangsang lambung
Rasional : untuk mengurangi resiko nyeri pada lambung
f). Kolaborasi medis terapi anti diare dan ahli gizi untuk diet tinggi kalori.
Rasional : untuk mempercepat proses penyembuhan

d. Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan, dan status nutrisi berhubungan dengan kurangnya informasi
1). Tujuan :
a). Klien dapat mengekspresikan pemahaman tentang hubungan penyebab antara makanan tertentu dan rasa tidak nyaman
b). Adanya pemahaman diet
2). Intervensi :
a). Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya
Rasianal : berguna untuk menentukan intervensi selanjutnya
b). Diskusikan tentang agen penyebati dan penyakitnya
Rasional : diharapkan klien mengetahui proses penyakitnya sehingga klien dapat berpartisipasi dengan baik dalam tindakan keperawatan dan pengobatan
c). Jelaslcan tanda dan gejala perforasi
Rasional : agar klien dapat mendeteksi secara dini keluhan yang dirasakannya dan diharapkan dapat segera memeriksa diri jika gejala timbul sehingga komplikasi lainnya dapat dicegah
d). Jelaslkan mengenai kebutuhan nutrisi dan diet
Rasional : agar klien mengerti tentang kebutuhan tubuh akan gizi dan program diet dapat berjalan dengan baik
e). Libatkan keluarga dalam perawatan
Rasional : kedekatan klien dengan keluarga membuat klien lebih percaya

e. Kurang pengetahuan tentang kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan kurangnya informasi.
1). Tujuan :
a). Pasien dapat mengekspresikan pemahaman tentang pentingnya cairan bagi tubuh.
b). Pasien mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan cairan.
2). Intervensi :
a). Kaji pengetahuan pasien tentang kebutuhan cairan tubuh
Rasional : berguna untuk menentukan intervensi selanjutnya
b). Jelask:an mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan tubuh setiap harinya
Rasional : diharapkan pasien mengetahui kebutuhan cairannya sehingga pasien pasien dapat mencegah terjadinya kekurangan cairan.
c). Jelaskan tanda dan gejala kekurangan cairan
Rasional : agar pasien dapat mendeteksi secara dini keluhan yang dirasakannya.
d). Jelaskan mengenai jenis-jenis makanan yang dapat menjadi sumber cairan.

f. Risiko infeksi pada rektum berhubungan dengan adanya diare yang berkepanjangan
1). Tujuan : infeksi pada rektum tidak terjadi
2). Kriteria hasil :
a). Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
b). Tidak ada peningkatan kadar leukosit dalam darah
c). Tanda-tanda vital normal
3). Intervensi :
a). Kaji adanya tanda-tanda infeksi
Rasio:nal : untuk mendeteksi secara dini adanya tanda-tanda infeksi
b). Monitor tanda-tanda vital
Rasional : untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi
c). Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan daerah anus
Rasional : untuk menurunkan risiko infeksi
d). Jelaskan mengenai tanda dan gejala infeksi
Rasional : agar pasien dapat mendeteksi secara dini tanda dan gejala infeksi clan diharapkan dapat segera melaporkan pada perawat jika terdapat tanda clan gejala infeksi
e). Pertahankan masukan kalori clan protein dalam diet
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan energi dan mempertahan¬kan ketahanan tubuh
f). Kolaborasi medis pemberian obat anti diare
Rasional : untuk menghentikan diare sehingga infeksi pada rektum dapat dicegah


























DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (2000). Buku saku diagnosa keperawatan. Edisi 8. Volume 2. Jakarta :EGC

Corwin, E.J. (2000). Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC

Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., dan Geissler, A.C. (1999). Rencana asuhan keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan asien. Edisi 3. Jakarta: EGC

Gale, D. dan Charette, J. (1999). Rencana asuhan keperawatan onkologi. Jakarta : EGC

Hadi, S. (1995). Gastroenterolog i. Edisi 4. Bandung : Alumni

Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W.L, dan Setiowulan, W. (1999). Kapita selekta kedokteran. Jilid 1. Edisi 1. Jakarta: Media Aesculapius

NANDA. (2001). Diagnosa keperawatan NANDA : Defmisi dan klasifikasi 2001/2002. Alih bahasa mahasiswa PSIK BFK UGM angkatan 2002. Yogyakarta

NN. (2001). Dispepsia, g_angguan lambung_ Terdapat pada http://www.minggupagi.com.( 9 Juli 2005 )

……. (2002). Sindrom dispepsia. Terdapat pada : http://www.ipteknet.com. (9 Ju1i2005)

……..(2004). Gastroesophageal refluks disease. Terdapat pada http://www.interna.or.id. (9 Juli 2005)

…….. (2004). An kg_a kejadian dispepsia. Terdapat pada : http://www.ina-ghic.or.id. (9 Juli 2005)

Selamihardja, Nanny. (1997). Keluhan sakit perut cian penyembuhannya. Terdapat pada : http://www.indomedia.com. (9 Juli 2005)

Soeparman dan Waspadji. (1990). Ilmu penyakit dalam. Jilid 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Tucker, S.M., Canobbio, M.M., Paquette, E.V., dan Wells, M.F. (1998). Standar perawatan Qasien : Proses keperawatan , diagnosis, dan evaluasi. Volume 2. Alih bahasa Yasmin.Asih. Jakarta: EGC